Aksi Buruh di Madiun. Akankah Berkelanjutan?

demo_buruh_madiun

Mendengar kata aksi buruh mungkin ekspektasi kita akan selalu menuju ke aksi demonstrasi. Ya, aksi yang dimaksud adalah demonstrasi buruh atau pekerja pabrik bagian produksi. Kata demonstrasi yang sering kita jumpai dalam topik berita di wilayah jabodetabek, khususnya Tangerang, Provinsi Banten. Hal tersebut mungkin juga sudah menjadi hal yang biasa bagi anda ketika melihat sebuah berita.

Demonstrasi yang bertujuan untuk menyampaikan pikiran secara kritis memang sering dilakukan buruh di wilayah jabodetabek. Seringkali hal tersebut berkaitan dengan upah buruh yang dirasa tidak sebanding dengan pekerjaan mereka.

Kali ini, demonstrasi yang cukup berpengaruh terjadi di Kota Madiun, Provinsi Jawa Timur.

Aksi Demonstrasi di Kota Madiun

Alih-alih dalam demo yang biasanya protes mengenai kenaikan UMK, demonstran kali ini beraksi dikarenakan solidaritas rekan kerja. Aksi yang di gelar sejak hari Rabu 13 Maret 2019 lalu ini dilakukan lantaran rekan kerja yang di-PHK secara sepihak. Saat ini, sudah 6 buruh yang di-PHK dan akan disusul dengan 5 orang lainnya.

Pemutusan hubungan kerja (PHK) yang diduga sepihak ini dikarenakan lantaran buruh tidak diperbolehkan ikut organisasi buruh Federal Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Wahyu Kurniawan selaku pengurus pengurus FSPMI juga ingin memperjuangkan nasib para anggota buruh meski sebenarnya dirinya sudah diangkat sebagai karyawan.

Menurut penjelasan Wahyu Kurniawan, awal mula 6 buruh yang di-PHK, 3 hari setelahnya pada Sabtu 16 Maret 2019 sudah bertambah 2, jadi total 8. Setelah itu akan bertambah lagi 3 orang hingga total 11. Dirinya juga mengatakan ada beberapa buruh yang sudah bekerja hampir 11 tahun tapi tidak diangkat sebagai karyawan. Mereka yang sudah lama bekerja masih dihantui rasa khawatir akan PHK karena perpanjangan kontrak tiap tahunnya.

Penjelasan Dari Pihak Perusahaan

Cipta Gagas Lestari selaku pihak yang melakukan PHK sepihak membenarkan hal tersebut. Staf Legal Officer, Yori Gunawan menjelaskan bahwa pemutusan hubungan kerja (PHK) dilakukan sesuai prosedur dan persetujuan dari dua belah pihak. Dirinya mengatakan bahwa sangat tidak benar jika perusahaan memutuskan semena-mena. Perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT) sudah mengikuti sesuai perundangan.

Sebagai informasi, PT. Cipta Gagas Lestari adalah distributor dari produk Wings. Perusahaan tersebut termasuk dalam grup PT Wings Surya di Kota Surabaya. Berdasarkan keterangan Yori Gunawan, PT. Cipta Gagas Lestari (CGL) ini baru berdiri 3 tahun yang lalu, jadi tidak benar jika sudah ada pekerja yang sudah belasan tahun bekerja. Sedangkan pengakuan dari beberapa buruh, PT. CGL ini sebelumnya bernama PT Wings Surya yang sudah berdiri belasan tahun yang lalu.

Mediasi Berlanjut Gagal

Pihak PT. CGL yang enggan untuk mediasi dengan para buruh berlanjut dengan ada aksi nekat para buruh. Sabtu 16 Maret 2019, aksi buruh semakin agresif dengan adanya tindakan penyegelan pintu gerbang. Tenda terpal warna biru dipasang oleh para buruh dengan mengikatkan ke pintu gerbang. Alhasil, aktifitas distribusi terhambat dikarenakan armada angkutan tidak bisa bergerak. Beberapa pekerja yang tidak mogok tidak berani melawan.

Dari 300 orang buruh yang bekerja di PT. CGL, hanya 60 orang yang berani mengikuti aksi demo. Buruh yang tidak ikut aksi mogok kerja tersebut diduga telah diancam tidak diperpanjang kontraknya jika mengikuti. Meski begitu, hingga kejadian itu, pihak PT. CGL juga masih enggan melakukan mediasi. Mereka bahkan akan melakukan pengenaan sanksi kepada buruh yang melakukan demo.

CGL menganggap tindakan mogok kerja merupakan hal yang tidak sah, sehingga mereka akan mengambil tindakan sesuai undang-undang yang berlaku. Belum pasti tindakan apa yang akan dilakukan perusahaan ini terhadap sanksi yang ditentukan

Harapan Dari Para Pekerja

Para buruh yang melakukan demonstrasi mengaku akan tetap terus melanjutkan aksinya hingga rekan-rekan yang di-PHK kembali bisa bekerja lagi. Pemutusan hubungan kerja yang diduga sepihak ini bisa sangat menyengsarakan. Mereka yang masih memiliki niat kerja dan membutuhkan nafkah untuk keluarga sangat disayangkan. Wahyu Kurniawan yang menjadi wakil para buruh mengatakan, setidaknya pihak PT. CGL mau bermediasi. Dirinya juga berharap disnaker segera datang kembali untuk mengajak mediasi.

Pekerja yang masih aktif dan tidak melakukan demonstrasi juga sangat menyayangkan tindakan kedua belah pihak. Setidaknya bisa dilakukan diskusi internal agar tidak terjadi konflik yang melibatkan pihak luar. Meski permasalahan bisa terselesaikan setelah kejadian ini, mereka ragu jika aktifitas pekerjaan bisa berjalan seperti sedia kala.

Hingga saat ini, masih belum jelas bagaimana proses mediasi dari dua belah pihak. Pada hari.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Tinggalkan Balasan