Budaya “Berjalan Kaki” Di Indonesia, Bisakah?

Pejalan Kaki Di Luar Negeri
idntimes.com

Jalan kaki bukan merupakan pilihan bagi sebagian besar orang Indonesia untuk melakukan berbagai aktivitas seperti berangkat kerja, berangkat ke sekolah atau sekedar pergi kepasar. Bahkan dalam jarak yang lumayan dekat mereka lebih memilih untuk naik motor atau mobil pribadi. Mengapa budaya berjalan kaki belum melekat pada sebagian orang Indonesia?

Beberapa Alasan orang Indonesia Malas Jalan Kaki

Ada beberapa alasan yang menyebabkan orang indonesia malas berjalan kaki, antara lain sebagai berikut.

Pertama, masyarakat Indonesia berpandangan bahwa berjalan kaki akan menimbulkan kesan sebagai orang yang tidak mampu atau “kere”. Seperti ketika ada seseorang yang berjalan kaki untuk berangkat ke kantor, maka teman sekantor biasanya berkata, “Jalan kaki ke kantor?, kasian banget”. Hal tersebut membuat seseorang merasa dikasihani sehingga berusaha untuk memiliki kendaraan pribadi.

Kedua, fasilitas umum bagi para pejalan kaki di Indonesia yang belum sepenuhnya dimanfaatkan dan dioptimalkan. Trotoar yang harusnya untuk pejalan kaki sering disalahgunakan sebagai tempat jualan PKL atau jalan bagi sepeda motor saat macet. Hal tersebut tentunya akan membuat para pejalan kaki tidak merasa nyaman untuk jalan kaki.

Ketiga, iklim tropis Indonesia juga sering dijadikan alasan beberapa orang malas berjalan kaki. Cuaca yang kadang terasa panas sehingga menjadikan kulit terbakar atau menjadi hitam, atau orang akan basah ketika turun hujan. Di beberapa negara seperti Malaysia dan Hongkong, masalah seperti ini bisa diatasi dengan membangun trotoar beratap yang dapat mengatasi panas maupun hujan.

Keempat, masyarakat Indonesia sudah telanjur dimanjakan oleh kendaraan pribadi yang mereka miliki. Hal seperti inilah yang dapat menurunkan kesadaran masyarakat dari segi kesehatan akan manfaat berjalan kaki. Perilaku malas bergerak dan berolahraga merupakan salah satu pemicu kegemukan atau obesitas.

Dan yang kelima adalah, mudahnya akses pemesanan transportasi online yang mengantarkan sampai tujuan. Seperti yang sudah kita tahu, sekarang ini Indonesia memiliki layanan transportasi online yaitu Go-Jek dan Grab. Hampir semua orang sudah mengetahui bagaimana mudahnya mengakses layanan mereka. Tentu saja hal ini memiliki pengaruh besar terhadap budaya jalan kaki, mengingat kita bisa memesan kapan saja dan dimana saja. Mengantar barang dan pesanan barang dari transaksi-pun dapat dilakukan. Bahkan pembayaran bisa dilakukan melalui E-CASH ataupun pulsa dengan cara convert pulsa atau tukar pulsa

Menurut dokter Ahli Fisiologi Olahraga, Ermita Ibrahim Ilyas tren penyakit di Indonesia sekarang telah berubah dari penyakit TBC menjadi penyakit karena kegemukan. Pernyataan tersebut didukung data Riset Kesehatan Nasional (Riskesnas) tahun 2016, menunjukkan penduduk dewasa berusia diatas 18 tahun yang mengalami obesitas mencapai 20,7% atau lebih dari 40 juta orang.

Bagaimana Realisasi Budaya Jalan Kaki di Indonesia

Realisasi budaya berjalan kaki di Indonesia membutuhkan banyak fokus perbaikan dari segala aspek. Contoh sederhananya seperti tidak memandang remeh orang yang berjalan kaki. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan reaksi positif dan tidak menunjukkan rasa belas kasihan dan memberi apresiasi pada orang yang berjalan kaki. Butuh kesadaran yang tinggi dari seluruh lapisan masyarakat agar hal ini dapat tercapai.

Fasilitas umum lain yang dapat menunjang budaya berjalan kaki yaitu transportasi umum. Transportasi umum dengan sistem yang modern dan fasilitas yang lengkap serta memiliki waktu perjalanan yang lebih singkat. Dengan waktu singkat secara tidak langsung mengurangi keinginan orang untuk menggunakan kendaraan pribadi. Bahkan mereka akan rela berjalan kaki untuk mencapai halte atau stasiun agar dapat menikmati fasilitas transportasi umum tersebut dan menghemat waktu perjalanan.

MRT (Mass Rapid Transit), BRT (Bus Rapid Transit) dan LRT (Light Rail Transit) merupakan contoh transportasi modern yang sudah digunakan dibeberapa negara maju. Hal tersebut harusnya ikut   diterapkan juga di Indonesia.

BRT memang sudah diterapkan di beberapa kota besar di Indonesia antara lain Jakarta (Trans Jakarta), Bogor (Trans Bogor), Surakarta (Batik Trans Solo), Yogyakarta (Trans Jogja) dan kota besar lainnya.

Baru-baru ini proyek MRT sedang digarap oleh pemerintah DKI kabarnya akan mulai beroperasi pada tahun 2019 ini. Hal yang dapat kita lakukan untuk mendukung proyek ini adalah memelihara dan tidak merusak fasilitas MRT jika sudah beroperasi nantinya. Proyek LRT juga sudah dalam tahap pembangunan sejak tahun 2015.

Jika budaya berjalan kaki di Indonesia dapat terlaksana, maka berbagai manfaat akan kita rasakan. Manfaat yang dapat kita rasakan langsung pada diri kita adalah memiliki tubuh yang lebih sehat terhindar dari kegemukan.

Manfaat pada lingkungan yaitu berkurangnya kemacetan seiring berkurangnya masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi. Selain itu, interaksi sosial dengan para pejalan kaki lain yang ditemui akan terbangun.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply