LinkAja Tidak Populer, Ini Yang Sebenarnya!

Bertransaksi dengan cara pembayaran menggunakan dompet digital sekarang sudah merupakan hal yang biasa saja untuk sekarang. Dengan menggunakan aplikasi GoPay, OVO, Dana, LinkAja, Paypro dan masih banyak lagi pilihan yang bisa digunakan. Tiap dompet digital memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Kali ini, kami akan menilik LinkAja yang selama ini agak sedikit “tersembunyi”. Tersembunyi bagaimana? Mari kita simak bersama-sama.

Apa Itu LinkAja?

LinkAja merupakan dompet digital yang dibesut oleh perusahaan BUMN. Sebelumnya, pada tanggal 29 Februari 2019, T-Cash milik Telkomsel berganti nama menjadi LinkAja. Perusahaan BUMN yakni Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), Telkomsel, dan Pertamina. Sekedar info singkat, Himbara memiliki anggota yaitu BRI, BNI, BTN, dan Bank Mandiri.

Perubahan nama T-Cash menjadi LinkAja sebenarnya tidak bermaksud untuk mengganti brand atau perpindahan kepemilikan, hanya saja LinkAja lebih diutamakan untuk semua kebutuhan pembayaran digital kedepannya. Pengguna T-Cash yang sebelumnya pun juga akan memiliki akun dan saldo yang sama saat berpindah ke LinkAja.

Dikatakan Sebagai Pesaing Berat OVO dan GoPay

Beberapa masyarakat dan peneliti mengungkapkan bahwa LinkAja hadir sebagai pesaing berat OVO dan GoPay. Hal tersebut sebenarnya agak sedikit keliru. LinkAja memang menyerupai OVO dan GoPay atau bahkan layanan E-Wallet lainnya. Dijelaskan oleh CEO LinkAja, Danu Wicaksana bahwa OVO, GoPay dan DANA turut mendorong inklusi keuangan di Indonesia.

Inklusi yang dimaksud adalah masyarakat di Indonesia mulai mengikuti budaya non tunai dan ikut serta dalam mengedukasi masyarakat dalam penggunaan uang elektronik. Hal tersebut sangat membantu visi dan misi pemerintah.

Target LinkAja Berbeda

Secara singkat, LinkAja menargetkan inklusi keuangan di Indonesia mencapai 75% hingga 90%. LinkAja yang merupakan hasil kerjasama perusahaan BUMN akan menyediakan layanan beli pulsa, tiket kereta, tiket pesawat, serta bahan bakar kendaraan di SPBU. Fokus LinkAja juga diperuntukkan transaksi elektronik dengan nominal paling minim, contohnya seperti membeli pulsa Rp 10.000.

Pemerintah berharap, hasil kerja sama perusahaan BUMN membentuk LinkAja dapat menuntaskan Gerakan Nasional Non Tunai atau disingkat GNNT.

GNNT 2024 (Gerakan Nasional Non Tunai 2024)

Pada 14 Agustus 2014 lalu, Bank Indonesia membuat sebuah rencana untuk masyarakat yaitu Gerakan Nasional Non Tunai atau GNNT. Rencana ini bermaksud agar masyarakat Indonesia mulai menggunakan alat pembayaran non tunai saat bertransaksi. Setidaknya, Bank Indonesia menargetkan pada tahun 2024, rencana ini sudah mencapai 25%.

Sampai saat ini, masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa transaksi tunai atau menyimpan uang di rumah atau secara konvensional adalah jalan paling aman. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar, bahkan bisa dinilai itu lebih memiliki banyak resiko daripada di bank.

Beberapa Manfaat Transaksi Non Tunai

(1). Transaksi non tunai lebih aman daripada transaksi tunai, karena membawa uang secara berlebihan saat berpergian sangatlah berbahaya, dan uang tunai sangat rawan pencurian dan susah untuk dilacak. Sedangkan jika menggunakan transaksi non tunai, seperti ATM, kita dapat mengganti password dan tidak dapat digunakan oleh sembarang orang,

(2). Transaksi non tunai lebih higienis dibandingkan uang tunai, karena biasanya uang tunai yang selalu berpindah-pindah tangan banyak mengandung bakteri. Sedangkan uang non tunai kita tidak perlu lagi memegang uang tunai,

(3). Transaksi non tunai lebih banyak pilihan, seperti kartu debit, kredit, pembayaran online maupun kredit online, dan memiliki tingkat keamanan yang tinggi dibandingkan transaksi tunai,

(4). Transaksi non tunai dapat mengurangi peredaran uang palsu,

(5). Transaksi non tunai juga banyak memberikan promo atau diskon.

Beberapa Pendapat Mengenai LinkAja

Ekonom dari INDEF, Nailul Huda menyatakan bahwa LinkAja mampu mengalahkan layanan serupa yang terlebih dahulu hadir seperti OVO dan GoPay. Dukungan pasar dan modal besar karena LinkAja didukung oleh perusahaan BUMN. Ia juga menilai bahwa LinkAja bisa kontradiktif terhadap perkembangan bisnis fintech atau E-Wallet di Indonesia karena dominasi pasar perusahaan BUMN.

Pendapat tersebut berbalik dengan yang dinyatakan oleh Piter Abdullah, Direktur Riset Center of Reforms on Economics (CORE). Piter Abdullah menyatakan, hal tersebut sangatlah sulit, dukungan segerombolan BUMN belum cukup untuk menjegal layanan serupa. Secara singkatnya, jika persaingan sehat terjadi, LinkAja akan sangat dirugikan karena modal promosi yang didapat dari perusahaan BUMN tidak cuma-cuma dan dapat begitu saja digunakan. Tidak seperti GoPay dan OVO yang mudah untuk memberikan campaign Cashback.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Tinggalkan Balasan