Pandangan Masyarakat Tentang Kendaraan Elektrik

kemudiku.com

Kendaraaan elektrik atau listrik adalah salah satu inovasi dari kendaraan yang ada di dunia. Dengan kendaraan ini penggunanya / masyarakat tidak perlu membeli bahan bakar minyak karena menggunakan listrik sebagai energi penggeraknya.

Kendaraan elektrik ini banyak jenisnya, mulai dari mobil dan motor hingga ada inovasi truk dan bus listrik. Namun semua ini kebanyakan masih dalam tahap pengembangan sehingga belum bisa diproduksi massal. Tidak diproduksi massalnya kendaraan elektrik ini bukan tanpa sebab karena masyarakat masih memiliki pandangan berbeda soal kendaraan elektrik.

Sebagian masyarakat masih beranggapan kendaraan elektrik belum perlu karena masih banyaknya kendaraan konvensional. Sementara bagi pegiat lingkungan dan masyarakat lainnya, ada yang beranggapan kendaraan elektrik harus ada untuk mengurangi polusi dan alasan lainnya yang mendukung adanya mobil listrik ini.

Dalam tulisan kali ini kami akan membahas mengenai bagaimana pandangan masyarakat di sekitar kita mengenai kendaraan elektrik, bagaimana contoh implementasinya di negara lain dan apa saja kendala yang dihadapi di Indonesia.

Manfaat Kendaraan Elektrik Secara Umum

Keberadaan kendaraan elektrik sebenarnya memiliki beberapa manfaat sehingga berguna bagi kehidupan manusia saat ini, antara lain sebagai berikut :

  1. Lebih hemat energi, berdasarkan perhitungan mobil listrik biasa dengan mobil BBM mengeluarkan biaya energi jauh lebih sedikit yakni hanya seperempat dari penggunaan BBM
  2. Hemat energi saat terjadi kemacetan, karena tidak terbuang bahan bakar secara berlebihan
  3. Kendaraan elektrik adalah satu – satunya kendaraan yang mendukung pengereman sendiri atau disebut Intelligent Transport System
  4. Mudah dalam perawatan karena minim onderdil dan oli

Kendaraan Elektrik di Negara Maju

Black cabs atau taksi hitam yang merupakan ikon kota London sejak 20 tahun lalu, secara bertahap dikurangi. Taksi bermesin diesel tersebut akan digantikan dengan taksi listrik (e-Cab). Walaupun pada tahun 2018 ini lisensi operasi baru hanya diberikan kepada satu taksi elektrik. Penggantian taksi bermesin diesel ini bertujuan untuk mengurangi polusi udara dan kebisingan yang terjadi di kota London.

e-Cab atau taksi elektrik ini menawarkan berbagai kelebihan dari pengembangan teknologi yang digunakan. “Pintu dapat membuka ke arah yang berlawanan, penumpang bisa masuk dengan mudah saat lalulintas padat. Disini ada USB port juga Wifi, Semua terkoneksi dan dikendalikan oleh sopir” kata Paul Chrisostomou seorang sopir e-Cab. Dengan kelengkapan fasilitas yang ditawarkan, tidak heran jika harga e-Cab ini jauh lebih mahal.

Di Jepang, sejak peluncuran mobil listrik dari Mitsubishi pada tahun 2009 dan Nissan pada tahun 2010 kini alat pengisi ulang listrik cepat telah dipasang diseluruh pelosok negeri. Hal tersebut merupakan solusi untuk mengatasi kemampuan jarak tempuh dari mobil listrik yang tidak dapat untuk berkendara jarak jauh, sehingga pengendara tidak khawatir kehabisan daya.

Pandangan Masyarakat dan Kendala Kendaraan Elektrik di Indonesia

Kendaraan elektrik ternyata sudah dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia memiliki ketertarikan yang cukup tinggi terhadap mobil atau motor listrik ini. Mereka beranggapan kendaraan elektrik lebih ramah lingkungan.

Memiliki fasilitas dengan teknologi canggih dan merupakan solusi dari terus meningkatnya harga BBM. Kendaraan listrik dipilih sebagai kendaraan dengan bahan bakar alternatif yang lebih hemat dibandingkan kendaraan konvensional yang membutuhkan BBM.

Berdasarkan Perpres Nomor 22 Tahun 2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pemerintah menargetkan peredaran kendaraan listrik pada tahun 2025 dapat mencapai jumlah 2,1 juta unit untuk kendaraan roda dua dan 2.200 unit untuk kendaraan roda empat. Akan tetapi, penetrasi kendaraan listrik di Indonesia hingga pertengahan tahun 2018 masih jauh dari ekspektasi pemerintah.

Kendaraan listrik roda dua yang sudah beredar di Indonesia hanya 0,14 persen dari target pemerintah sedangkan kendaraan roda empat hanya 45 persen dari target pemerintah. Selain kendaraan distribusi infrastruktur belum sempurna. Stasiun Penyedia Listrik Umum (SPLU) untuk kebutuhan isi ulang baterai diperlukan sekitar 1.300 SPLU tersebar di beberapa kota di Indonesia. Namun, PLN belum menemukan urgensi dalam pembangunan SPLU.

Strategi wait and see dari produsen dan penyedia infrastruktur inilah yang menyebabkan beroperasinya kendaraan listrik secara masal di Indonesia masih sangat sulit. Kebijakan yang jelas dari pemerintah sangat dibutuhkan, untuk mendorong perkembangan dari penggunaan kendaraan listrik di Indonesia. Contoh nyata kebijakan pemerintah yang dapat kita adopsi dari Norwegia yaitu bebas pajak kendaraan impor, dan gratis parkir diruang publik.

Sayangnya ketertarikan masyarakat akan kendaraan elektrik masih disertai keraguan terhadap harga kendaraan elektrik yang mahal. Keterbatasan infrastruktur penunjang seperti alat pengisi ulang listrik dan kapabilitas kendaraan juga berpengaruh. Selain itu, dibutuhkan edukasi yang lebih intensif terhadap masyarakat, tentunya tentang kelebihan kendaraan listrik dan sebuah sistem regulasi dari pemerintah untuk menggiatkan penggunaan kendaran elektrik.

Tinggalkan Balasan