Perjalanan Bolt, Pionir 4G di Indonesia

Modem 4G BOLT
sepulsa.com

Bagi anda pengguna internet 4G di Indonesia, mungkin pernah mengenal atau menggunakan layanan 4G dari Bolt. Kemunculan provider ini pada tahun 2013 memberikan gebrakan bagi industri internet Indonesia. Karena pada waktu itu 4G belum terlalu terkenal seperti sekarang.

Meski begitu perjalanan provider ini mengalami pasang surut, dan akhirnya sungguh disayangkan pada 2018, tepatnya pada 28 Desember layanan ini resmi tutup. PT Internux selaku perusahaan penyedia layanan Bolt sebenarnya memiliki komitmen untuk memberi layanan internet kecepatan tinggi di Indonesia.

Layanan Bolt 4G LTE hadir dengan menggunakan infrastruktur internet kecepatan internet 10 kali lipat tapi dengan harga terjangkau. Total, investasi sebesar US$ 550 juta pada waktu itu dikeluarkan untuk investasi pada layanan internet ini. Bolt menggunakan frekuensi 2.3GHz Broadband Wireless Access (BWA) sesuai regulasi pemerintah. Dengan teknologi tersebut dapat membuat konsumen mengakses internet berkecepatan 72Mbps.

Seperti apa perjalanan Bolt, bagaimana kemajuan dan kemundurannya, kami akan bahas pada tulisan berikut.

Awal Perjalanan

Dilansir dari Liputan 6, Awal perjalanan Bolt sebenarnya cukup bagus dimana dana yang diinvestasikan digunakan untuk infrastruktur internet. Awal kemunculan Bolt ditandai dengan berdirinya 1500 BTS dan terus bertambah hingga 2200 BTS pada 2014.

Peningkatan infrastuktur ini berjalan seiring dengan peningkatan pelanggan. Tercatat 1 juta pelanggan menikmati layanan ini pada 2015. Kemudian pada maret 2015 layanan ini resmi buka di Sumatera Utara. Di tahun ini pula Bolt memberikan banyak kemajuan diantaranya teknologi LTE–A yang memiliki kecepatan internet 200Mbps dan memiliki 3500 BTS. 

Pada tahun 2017 Bolt memberikan layanan terbaru dinamakan 4G+ yang dapat mencapai kecepatan akses sekitar 300Mbps. Selain itu Bolt juga meluncurkan kartu perdana unlimited prabayar prabayar untuk semua smartphone.

Puncak kejayaan Bolt ditandai dengan 3 juta pelanggan pada 2017 dan perusahaan akan membuat target 4,4 juta pelanggan di tahun berikutnya.

Pasang Surut

Ada beberapa masalah yang dihadapi Bolt meski memiliki kesuksesan yang besar di Indonesia. Masalah persaingan dan kinerja perusahaan menjadi kendala utama. Belum ditambah hutang yang dimiliki perusahaan yang tidak bisa dibayar. Meski begitu sebenarnya Bolt memberi banyak inovasi seperti produk dan layanan  baru.

Salah satu yang membuat kinerja Bolt menurun adalah adanya utang / tunggakan biaya frekuensi 2,3 Ghz. Akibat belum melunasi hutang inilah yang menjadi awal surutnya layanan Bolt di Indonesia. Pemerintah tidak mau ambil resiko dan menerapkan prosedur utama seperti memberi surat peringatan, pelaksanaan gugatan dari pihak perusahaan. Karena masih bermasalah juga akhirnya Bolt mau tidak mau harus menutup layanannya. Bisa dipastikan surut layanan Bolt karena masalah hutang yang tidak bisa dilunasi.

Kemunduran dan Penutupan layanan

Awal mula kemunduran Bolt terjadi di 2018 dimana pemerintah mengumumkan bahwa PT Internux selaku penyedia internet Bolt memiliki tunggakan dan denda sekitar Rp 708,4 miliar rupiah (Digabung denga PT First Media) akibat belum membayar Biaya Hak Penggunaan (BHP) izin frekuensi 2,3 GHz. Jumlah tunggakan pokok Bolt menyentuh angka Rp 343,5 miliar. Untuk jatuh tempo pembayaran sekitar 17 November 2018.

Jika pihak Bolt tidak ada itikad untuk melakukan pembayaran, sesuai peraturan yang berlaku layanan ini harus ditutup. Prosedurnya adalah mulai dari denda, penghentian sementara, dan terakhir adalah pencabutan izin. Sebenarnya Kemkominfo telah menerbitkan beberapa kali surat peringatan dan mengundang pihak Bolt yang belum melunasi BHP Frekuensi 2.3GHz dalam rangka koordinasi pelunasan hutang.

Bolt menanggapi peringatan tersebut dengan mengajukan proposal perdamaian langsung ke Menkominfo Rudiantara. Proposal tersebut berisi itikad baik Bolt untuk membayar hutang BHP frekuensi 2.3GHz. Bolt juga waktu bertemu kominfo membahas teknik pembayaran hutang yang juga dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan.

Namun Proposal PT Internux  (Bolt) tidak dapat diproses karena setelah dikonsultasikan dengan Kemenkeu, proposal tersebut tidak memenuhi ketentuan. Akhirnya, secara resmi pada tanggal 28 Desember Kemkominfo dan Bolt mengumumkan kalau Bolt menutup layanannya.

Kendati demikian, kewajiban Bolt melunasi utang BHP frekuensi 2.3GHz harus tetap dilakukan, disertai pemenuhan hak pelanggan seperti pengembalian dana pulsa. Nasib pelanggan Bolt sendiri belum jelas karena dikatakan akan dialihkan ke operator lain, namun belum ada operator yang menampung.

Adapun fitur bolt yang menggunakan pulsanya hanya untuk berlangganan layanan internet. Tidak ada layanan SMS atau telepon baik konektifitas telepon biasa atau VoLTE. Karena itu, beberapa pengusaha mikro yang memanfaatkan fitur pulsa layaknya provider seperti biasanya pun tidak bisa memanfaatkan layanan Bolt. Sebut saja seperti convert pulsa atau tukar pulsa yang memerlukan fitur transfer pulsa.

Sungguh disayangkan layanan dengan inovasi seperti Bolt berhenti karena masalah keuangan. Menjadi pelajaran bagi anda dan kami bahwa dalam menjalankan bisnis harus dilakukan secara matang dan memiliki strategi yang benar. Hal ini agar tidak bisnis tidak mengalami kemunduran di masa depan.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply