Voltase Listrik Di Beberapa Negara, Apa Bedanya?

Bagian Negara Yang Menggunakan Voltase Listrik Berbeda
quantumbalancing.com

Belum banyak yang mengetahui bahwa tegangan listrik atau voltase di setiap negara berbeda. Kebanyakan orang menganggap voltase sama sehingga ketika bepergian ke luar negeri tidak menyesuaikan diri dengan hal tersebut. Hal ini bisa berdampak, contohnya ketika menggunakan perangkat elektronik yang berbeda voltase di suatu negara bisa menimbulkan kerusakan pada perangkat tersebut.

Ada beberapa faktor mengapa voltase listrik di beberapa negara mengalami perbedaan. Di dunia ini juga terdapat beberapa negara yang menerapkan voltase serta tipe stopkontak yang berbeda. Ada juga yang antar negara tersebut sama satu sama lain karena standar tertentu. Dalam tulisan ini kami akan mengulas  mengenai hal tersebut.

Perbedaan Voltase dan Cirinya

Kebanyakan orang mengetahui voltase listrik antara 220V/230V saja, padahal tegangan listik selain itu cukup banyak ditemui. Ada voltase listrik yang kecil seperti 110V hingga maksimal 240V. Semua ini memiliki perbedaan dalam pengaplikasian perangkat listrik di dalamnya. Selain itu juga ada perbedaan frekuensi listrik, biasanya antara 50Hz dan 60Hz.

Untuk dapat mengetahui ciri voltase listrik ini, anda dapat menjumpainya dalam perangkat listrik yang dimiliki. Biasanya tertera dalam label perangkat listrik yang ada. Misalnya dalam charger handphone tertulis input 100-240V, berarti anda dapat menggunakan charger teresebut di tegangan antara 100 sampai 240V. Ada juga perangkat listrik yang single voltage atau bekerja pada satu tegangan saja.

Ciri lainnya adalah pada instalasi listrik yang dibangun. Misalnya kabel listrik untuk tegangan 110 Volt lebih tebal dari 220 V, namun isolasi listrik kabel 220 Volt lebih baik ketimbang 110 V. Hal ini bertujuan agar tegangan yang dimiliki tidak membahayakan orang yang tidak sengaja menyentuhnya. Hal lain yang memberi ciri adalah tipe steker, colokan, atau tanda pada tiap perangkat elektronik.

Mengapa Voltase Listrik Berbeda Tiap Negara?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perbedaan voltase di tiap negara. Misalnya kebijakan negara tersebut yang mengatur standar voltase di seluruh wilayah, namun ada negara yang tidak menerapkannya. Selain itu faktor sejarah negara juga mempengaruhi pembuatan standar voltase listrik, sama seperti peraturan lajur mobil di kanan atau kiri.

Selain itu voltase listrik di bebagai negara berbeda juga dipengaruhi faktor perangkat elektronik yang dibuat. Bisa jadi karena sudah banyak perangkat listrik yang dipakai masyarakat dengan tegangan 110V membuat pemerintah menerapkan standar voltase 110V di negara tersebut. Ada juga negara yang mengganti standar tersebut karena berkembangnya standar produk, misalnya indonesia yang mengubah standar 110V menjadi 220V.

Tiap – tiap negara memiliki tujuan tersendiri dalam menggunakan voltase listrik. Voltase yang diterapkan juga dipengaruhi beberapa faktor. Oleh karena itu sebagai pengguna elektronik wajib memahami kebijakan atau voltase yang diterapkan di negara tersebut.

Contoh Voltase di Berbagai Negara

Voltase di berbagai negara berbeda – beda, misalnya Indonesia yang menerapkan standar listrik 220V dengan Frekuensi 50Hz. Di negara lain menerapkan voltase yang berbeda, anda dapat menemui di global voltase map atau di tabel sistem listrik dunia. Kami hanya memberi contoh beberapa negara yang menerapkan standar voltase listrik dalam poin berikut.

Eropa

Hampir semua negara eropa menerapkan standar listrik 220 – 240V dengan frekuensi listrik 50Hz. Standardisasi ini tidak lain dibuat oleh kebijakan dari uni eropa itu sendiri. Tujuannya adalah memudahkan pengguna dalam menggunakan alat elektronik. Meski begitu, ada beberapa negara yang menggunakan colokan berbeda dan voltase yang berbeda juga.

Amerika

Di benua Amerika, khususnya Amerika Serikat masih menggunakan tegangan listrik 110 sampai 120 V dengan frekuensi sekitar 60Hz. Hal ini didasari oleh beberapa faktor, misalnya kebijakan pemerintahan atau perangkat elektronik masih standar lama.
Meski begitu ada juga yang menyebut tegangan masih di kisaran 100 – 120 V karena butuh banyak biaya untuk mengubah instalasi listrik dan perlengkapannya menjadi standar voltase baru.

Jepang

Di negara Jepang standar voltase hampir sama dengan Amerika Serikat, yakni sekitar 100 Volt dengan frekuensi 50 atau 60 Hertz. Yang membuat unik adalah tidak semua wilayah di Jepang menerapkan frekuensi yang sama. Jepang bagian barat misal Osaka dan Nagasaki menggunakan frekuensi 60 Hertz, sedangkan Jepang Timur seperti Hokaido, Tokyo, Sendai  menggunakan frekuensi 50 Hertz.

Brazil

Negara ini tidak menerapkan standar baku voltase di masing – masing wilayahnya. Tegangan sekitar 127 Volt digunakan di mayoritas negara bagian seperti Rio De Janiero, Sao Paulo. Sedangkan tegangan 220 volt digunakan di beberapa negara bagian  dan kota seperti Brasilia, Rio Grande de Norte, Alagoas.

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

Leave a Reply